Minggu lalu (3 Agustus) saya ikut acara Tunas KUNTUM, semacam penyambutan buat mahasiswa Muslim Indonesia di NTU. Selain jadi senior (haha bercanda) saya juga jadi bagian dokumentasi artinya juru kamera. Bagi yang ingin melihat foto-foto tersebut silahkan lihat slide show yang saya embed dibawah ini (flash, perlu waktu lumayan lama untuk mendownload bila koneksi lambat)
dan dibawah ini adalah video of the day
Bagi yang menginginkan file-file asli (beresolusi tinggi) dari foto-foto diatas, silakan hubungi saya lewat jalur pribadi
Friday, 8 August 2008
Saturday, 8 March 2008
Got free time? give 'em free rice!
Wah, sudah lama juga saya enggak mengisi blog ini. Para penggemar teori konspirasi mungkin mengira saya ikut-ikutan strike-nya Writer's Guild of America. Tapi enggak kok, saya bukan anggota WGA. Saya kan orang Indonesia, haha. Bahkan menurut salah satu quiz di Facebook, saya sama Indonesianya dengan Pak Presiden sendiri, bahkan dibilang cocok jadi Presiden, hahaha (walah kok gak nyambung).

Sering kurang kerjaan, punya waktu luang, atau enggak tau mau ngapain? (not applicable buat saya, huhu..) Dibanding browsing situs-situs yang tidak bermanfaat, atau menonton film yang sama berulang-ulang, ada cara yang lebih baik untuk menghabiskan waktu. Salah satunya adalah, Freerice.com sebuah website dimana kita bisa meningkatkan vocabulary kita sekaligus membantu orang-orang yang sedang kelaparan (eh maksudnya orang miskin yang kelaparan; orang yang kelaparan karena kantin tutup gak termasuk). Website ini memenangkan penghargaan Yahoo! Find of the Year 2007 untuk kategori Charity.
Wah kombinasinya aneh juga ya, vocabulary dengan kelaparan... Tapi begini cara kerjanya. Saat Anda membuka website tersebut, Anda akan diberikan sebuah pertanyaan berupa sebuah kata, dan empat pilihan jawaban dimana Anda diminta untuk memilih jawaban yang merupakan sinonim dari kata pertama tadi. Setiap Anda menjawab dengan benar, sponsor --yang menampilkan ad kecil di sebelah bawah pertanyaan tersebut-- akan menyumbangkan 20 butir nasi (atau beras, tergantung apa definisi rice yang dimaksud di website tersebut) kepada orang yang membutuhkan melalui World Food Program-nya PBB.
Lho, cuma 20 butir? mungkin Anda bertanya, apa itu signifikan? Hmm, mungkin memang 20 butir nasi tidak cukup untuk mengenyangkan, tapi prinsip dari proyek kolaborasi seperti ini adalah "sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit" maksudnya partisipasi dari individu mungkin kecil tapi karena ada banyak partisipan hasilnya jadi signifikan. Ini mirip dengan jawaban untuk pertanyaan tentang pemilu presiden atau anggota legislatif: buat apa capek-capek nyoblos, toh satu suara nggak akan memenangkan seorang calon atau suatu partai?
Misal anda dapat berpikir dan menjawab satu pertanyaan dalam waktu 5 detik, dan kemungkinan benar 50%. Dalam 10 menit saja Anda akan menjawab lebih dari 50 pertanyaan dengan benar, dan itu sama dengan 1000 butir nasi. Ini mungkin berarti sekali buat orang yang menyaksikan anak/orang tercintanya sekarat karena kelaparan, yang jumlahnya ada jutaan di dunia ini. Kalau Anda memlakukan hal ini 10 kali, dan ada 1000 pengguna saja yang melakukan hal yang sama, ini sudah 10 juta butir nasi. Menurut statistik, FreeRice berhasil mengumpulkan dan menyumbangkan sekitar 4-6 milyar butir nasi setiap bulannya, wah, berapa keluarga yang bisa diselamatkan karena itu!

Selain itu, melakukan ini jelas menambah vocabulary Anda, dan ini akan membantu Anda dalam percakapan, presentasi, tugas, dan sebagainya.
Tapi hal lain yang juga tak kalah penting adalah kita harus mensyukuri betapa beruntungnya kita, bisa makan, minum, dan mendapat gizi yang cukup. Menurut FAO (2007), ada 777 juta orang di seluruh dunia yang menderita kelaparan kronis dan lebih banyak lagi, yaitu 2 milyar jiwa (sekitar 1/3 populasi dunia) menderita malnutrisi (kekurangan gizi). Jadi alangkah tidak bersyukurnya kita kalau masih mengeluh, atau merasa iri kepada orang lain, dengan keadaan kita yang berkecukupan ini.

Sering kurang kerjaan, punya waktu luang, atau enggak tau mau ngapain? (not applicable buat saya, huhu..) Dibanding browsing situs-situs yang tidak bermanfaat, atau menonton film yang sama berulang-ulang, ada cara yang lebih baik untuk menghabiskan waktu. Salah satunya adalah, Freerice.com sebuah website dimana kita bisa meningkatkan vocabulary kita sekaligus membantu orang-orang yang sedang kelaparan (eh maksudnya orang miskin yang kelaparan; orang yang kelaparan karena kantin tutup gak termasuk). Website ini memenangkan penghargaan Yahoo! Find of the Year 2007 untuk kategori Charity.
Wah kombinasinya aneh juga ya, vocabulary dengan kelaparan... Tapi begini cara kerjanya. Saat Anda membuka website tersebut, Anda akan diberikan sebuah pertanyaan berupa sebuah kata, dan empat pilihan jawaban dimana Anda diminta untuk memilih jawaban yang merupakan sinonim dari kata pertama tadi. Setiap Anda menjawab dengan benar, sponsor --yang menampilkan ad kecil di sebelah bawah pertanyaan tersebut-- akan menyumbangkan 20 butir nasi (atau beras, tergantung apa definisi rice yang dimaksud di website tersebut) kepada orang yang membutuhkan melalui World Food Program-nya PBB.
Lho, cuma 20 butir? mungkin Anda bertanya, apa itu signifikan? Hmm, mungkin memang 20 butir nasi tidak cukup untuk mengenyangkan, tapi prinsip dari proyek kolaborasi seperti ini adalah "sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit" maksudnya partisipasi dari individu mungkin kecil tapi karena ada banyak partisipan hasilnya jadi signifikan. Ini mirip dengan jawaban untuk pertanyaan tentang pemilu presiden atau anggota legislatif: buat apa capek-capek nyoblos, toh satu suara nggak akan memenangkan seorang calon atau suatu partai?
Misal anda dapat berpikir dan menjawab satu pertanyaan dalam waktu 5 detik, dan kemungkinan benar 50%. Dalam 10 menit saja Anda akan menjawab lebih dari 50 pertanyaan dengan benar, dan itu sama dengan 1000 butir nasi. Ini mungkin berarti sekali buat orang yang menyaksikan anak/orang tercintanya sekarat karena kelaparan, yang jumlahnya ada jutaan di dunia ini. Kalau Anda memlakukan hal ini 10 kali, dan ada 1000 pengguna saja yang melakukan hal yang sama, ini sudah 10 juta butir nasi. Menurut statistik, FreeRice berhasil mengumpulkan dan menyumbangkan sekitar 4-6 milyar butir nasi setiap bulannya, wah, berapa keluarga yang bisa diselamatkan karena itu!

Selain itu, melakukan ini jelas menambah vocabulary Anda, dan ini akan membantu Anda dalam percakapan, presentasi, tugas, dan sebagainya.
Tapi hal lain yang juga tak kalah penting adalah kita harus mensyukuri betapa beruntungnya kita, bisa makan, minum, dan mendapat gizi yang cukup. Menurut FAO (2007), ada 777 juta orang di seluruh dunia yang menderita kelaparan kronis dan lebih banyak lagi, yaitu 2 milyar jiwa (sekitar 1/3 populasi dunia) menderita malnutrisi (kekurangan gizi). Jadi alangkah tidak bersyukurnya kita kalau masih mengeluh, atau merasa iri kepada orang lain, dengan keadaan kita yang berkecukupan ini.
Labels:
review
Monday, 24 December 2007
(agak telat) Selamat Idul Adha
Halo semua! Pertama-tama saya mengucapkan Selamat Idul Adha 1428 H. Bagi saudara-saudara yang menunaikan ibadah haji semoga mendapat haji yang mabrur dan saudara-saudara yang melaksanakan qurban semoga ibadahnya diterima oleh Allah. Sorry agak telat, by the way.
Bagaimana kabar pembaca semua? mudah-mudahan liburannya menyenangkan ya. Saya lagi di Pekanbaru. Kalau ada yang mau menghubungi saya, baik urusan penting atau tidak :P silahkan di kosong 'lapan lima dua enam lima enam enam tujuh lima tiga dua selama liburan ini
Sekali lagi, selamat liburan.
Hamdanil Rasyid.
*sebenarnya udah lama ditulis, tapi waktu mau ngepost kemaren warnetnya mati lampu -_-.
Bagaimana kabar pembaca semua? mudah-mudahan liburannya menyenangkan ya. Saya lagi di Pekanbaru. Kalau ada yang mau menghubungi saya, baik urusan penting atau tidak :P silahkan di kosong 'lapan lima dua enam lima enam enam tujuh lima tiga dua selama liburan ini
Sekali lagi, selamat liburan.
Hamdanil Rasyid.
*sebenarnya udah lama ditulis, tapi waktu mau ngepost kemaren warnetnya mati lampu -_-.
Labels:
holiday
Monday, 19 November 2007
News from A2113
sepertinya sudah lumayan lama aku ga ngupdate blog. kalau dihitung-hitung sudah dua minggu lebih. Sebenarnya aku mau ngepost sejak minggu lalu, tapi ada dua masalah: exam dan komputer. Menghadapi exam tentu harus ada persiapan, akibatnya waktu luang jadi sedikit dan tidak sempat ngepost di blog. Tambah lagi, sekitar seminggu yang lalu kompie rusak -_-. Sebenarnya bisa sih ngepost dari library, seperti sekarang ini, tapi entah kenapa di library jadi malas ngepost. tp gpp deh, sejak kompie rusak gangguan belajar jadi berkurang, aku jadi rajin bertapa di library, mudah2an akibatnya justru baik buat kuliahku hehe...
Ngomong-ngomong, kemungkinan hiatus di blog ini bakal berlanjut, setidaknya sampai selesai exam. alasannya seperti yang disebutkan tadi. Doakan saja aku bisa ngisi blog ini lagi secepatnya, dan isinya semakin bagus.
Menurut jadwal, besok aku bakal exam. Selain exam pertama semester ini, besok juga bakal jadi exam pertamaku yang jadwalnya pagi, selama di NTU. Selain itu, tiga hari kedepan ada tiga exam berturut-turut, sekali sehari, mirip sama minum obat. Jadi kayaknya aku bakal berjibaku ni, minggu ini. doakan aku sukses ya, dan doakan juga supaya jangan telat bangun ^^. Bagi pembaca yang juga sedang berjuang buat exam, seperti aku, aku ucapkan selamat berjuang dan semoga sukses. Belajar yang rajin. Jangan lupa berdoa dan jangan putus asa (waa... kata2 bijak nie). Ingat, where there's a will, there's a way. Dimana ada kemauan disitu ada jalan.
Ya sudah, segitu saja postinganku. Kok rasanya gaya bahasanya berubah ya dari biasanya? ah peduli amat. mungkin karena udah lama ga ngepost. mungkin juga gara2 kebanyakan baca lecture note. Anyway, Good luck buat semua!
*O ya, siapa yang bisa menebak maksud dari A2113 di judul postingan ini akan mendapat hadiah. deadline-nya sampai aku posting jawabannya, hahaha (ga penting) hint: bukan kode subject
Ngomong-ngomong, kemungkinan hiatus di blog ini bakal berlanjut, setidaknya sampai selesai exam. alasannya seperti yang disebutkan tadi. Doakan saja aku bisa ngisi blog ini lagi secepatnya, dan isinya semakin bagus.
Menurut jadwal, besok aku bakal exam. Selain exam pertama semester ini, besok juga bakal jadi exam pertamaku yang jadwalnya pagi, selama di NTU. Selain itu, tiga hari kedepan ada tiga exam berturut-turut, sekali sehari, mirip sama minum obat. Jadi kayaknya aku bakal berjibaku ni, minggu ini. doakan aku sukses ya, dan doakan juga supaya jangan telat bangun ^^. Bagi pembaca yang juga sedang berjuang buat exam, seperti aku, aku ucapkan selamat berjuang dan semoga sukses. Belajar yang rajin. Jangan lupa berdoa dan jangan putus asa (waa... kata2 bijak nie). Ingat, where there's a will, there's a way. Dimana ada kemauan disitu ada jalan.
Ya sudah, segitu saja postinganku. Kok rasanya gaya bahasanya berubah ya dari biasanya? ah peduli amat. mungkin karena udah lama ga ngepost. mungkin juga gara2 kebanyakan baca lecture note. Anyway, Good luck buat semua!
*O ya, siapa yang bisa menebak maksud dari A2113 di judul postingan ini akan mendapat hadiah. deadline-nya sampai aku posting jawabannya, hahaha (ga penting) hint: bukan kode subject
Labels:
diari
Saturday, 3 November 2007
Alarm dan diriku - 2
Previously on Hamdanil's blog...
inilah hari-hari pertama aku masuk ke NTU. Dan juga hari-hari pertamaku di Singapura, yang katanya salah satu kota terbesar di dunia. Suatu hari, aku sendirian di kamar karena roommate nginap di tempat abangnya (kalau ga salah). Aku pun tertidur dengan lelap.
Tengah malam, tiba-tiba suatu alarm meraung-raung dengan nyaringnya. Tentu saja, akugembira, bom yang kupasang di kamar OV tadi siang meledak juga akhirnya terbangun dan bertanya-tanya. Apa gerangan ini? Apalagi ini negeri antah-berantah yang aku baru tinggal disini kurang dari seminggu.
Cerita 2 - cont'd
Waktu itu aku baru beberapa hari di singapura. Aku masih kayakorang Padang baru liat Pekanbaru orang desa baru liat kota. Kayaknya ni Singapur serba tertib & teratur. Hmm, kalau ada alarm malam-malam gini pasti ada apa-apanya
Kucubit-cubit tanganku. eh ternyata cuma mimpi. Aku pun berpikir keras, apa yang mesti dilakukan. Mau lanjut tidur, bunyi alarmnya keras banget, mana bisa tidur. Lagipula bagaimana kalau memang terjadi apa-apa? Masa' aku datang dari pekanbaru ke singapur cuma buat jadi korban kebakaran? hi.. Aku lalu liat keluar kamar. Wah kok ga ada orang panik (ga seperti di cerita 1, padahal bunyi alarmnya nyaring sekali). Hmm.. kalau ga salah kemaren aku liat ada meja satpam dekat hall office. Kuputuskan untuk kesana aja, better safe than sorry. sesampainya disana, kulihat tulisan GUARD ON PATROL terpampang di atas meja. duh, ternyata satpamnya lagi keliling. Bagaimana ya?
Hm.. kalau begini caranya.. mau tak mau.. telpon kampus security
"Hello! This is NTU Campus Security!"
"Hello! I want to report I hear an alarm in my hall."
"What alarm?"
"Not sure, but the voice is very loud."
"Yeah, I can hear it."
"I tried to speak to the security guards, but they were on patrol and I could not find them."
"OK. What is your address?"
"xx-xx-xx"
"-----------." (suara kurang jelas)
"Excuse me?"
"We will send some technicians to help you. Just stay calm and wait."
"Oh OK. Thanks."
Hmm, stay calm and wait. Ok.. ok.. sambil nunggu, aku mikir-mikir tadi waktu aku keluar kok bunyinya ga sekeras didalam ya? jangan-jangan bunyinya dari dalam. Kulihat sekeliling... hmm ga ada benda mencurigakan. Mungkin dari ruangan di atasku, soalnya bunyinya kedengaran dari arah atas.
Akupun memasang telinga lebih baik lagi (cuma metafora lo!), dan kedengarannya suaranya dari arah tempatnya roommate. Hah disebelah sananya kan toilet & kamar mandi. masa' toilet kebakaran sih? ngawur ah. coba dengar baik-baik lagi
hm kayaknya dari rak bukunya. banyak bungkusan-bungkusan gitu. Aku geledah semua. bah! darahku serasa berhenti mengalir saat kulihat...
.....
.....
ternyata yang ribut dari tadi itu JAM WEKER ROOMMATE! baru beli hari ini kayaknya! BAH! ternyata ini yang bunyi dari tadi. Sial, bikin kaget aja... Keras amat bunyinya! Dimana ya matiinnya? oh ini. *mematikan bunyi alarm, siap untuk tidur lagi*
Ah baru ingat. Campus security udah terlanjur ditelepon. Kalau teknisinya sampai disini, mau bilang apa aku? Ya sudah, kutelpon lagi.
"Hello?"
"Hello. I am the one who called earlier. It was just an alarm."
"Pardon?"
"A normal alarm."
"You mean, a clock alarm?"
"Yes, yes... I mean a clock alarm. My roommate apparently bought a new alarm, and he is staying outside tonight"
"You are joking, right? You will be fined for emergency call abuse! So it's just normal?"
"Yes. I am sorry."
"So everything alright?"
"(sigh... udah dibilang dari tadi) Yes. And don't send the technicians, please."
"Ok. good night"
Moral of the story:
inilah hari-hari pertama aku masuk ke NTU. Dan juga hari-hari pertamaku di Singapura, yang katanya salah satu kota terbesar di dunia. Suatu hari, aku sendirian di kamar karena roommate nginap di tempat abangnya (kalau ga salah). Aku pun tertidur dengan lelap.
Tengah malam, tiba-tiba suatu alarm meraung-raung dengan nyaringnya. Tentu saja, aku
Cerita 2 - cont'd
Waktu itu aku baru beberapa hari di singapura. Aku masih kayak
Hm.. kalau begini caranya.. mau tak mau.. telpon kampus security
"Hello! This is NTU Campus Security!"
"Hello! I want to report I hear an alarm in my hall."
"What alarm?"
"Not sure, but the voice is very loud."
"Yeah, I can hear it."
"I tried to speak to the security guards, but they were on patrol and I could not find them."
"OK. What is your address?"
"xx-xx-xx"
"-----------." (suara kurang jelas)
"Excuse me?"
"We will send some technicians to help you. Just stay calm and wait."
"Oh OK. Thanks."
Hmm, stay calm and wait. Ok.. ok.. sambil nunggu, aku mikir-mikir tadi waktu aku keluar kok bunyinya ga sekeras didalam ya? jangan-jangan bunyinya dari dalam. Kulihat sekeliling... hmm ga ada benda mencurigakan. Mungkin dari ruangan di atasku, soalnya bunyinya kedengaran dari arah atas.
Akupun memasang telinga lebih baik lagi (cuma metafora lo!), dan kedengarannya suaranya dari arah tempatnya roommate. Hah disebelah sananya kan toilet & kamar mandi. masa' toilet kebakaran sih? ngawur ah. coba dengar baik-baik lagi
hm kayaknya dari rak bukunya. banyak bungkusan-bungkusan gitu. Aku geledah semua. bah! darahku serasa berhenti mengalir saat kulihat...
.....
.....
ternyata yang ribut dari tadi itu JAM WEKER ROOMMATE! baru beli hari ini kayaknya! BAH! ternyata ini yang bunyi dari tadi. Sial, bikin kaget aja... Keras amat bunyinya! Dimana ya matiinnya? oh ini. *mematikan bunyi alarm, siap untuk tidur lagi*
Ah baru ingat. Campus security udah terlanjur ditelepon. Kalau teknisinya sampai disini, mau bilang apa aku? Ya sudah, kutelpon lagi.
"Hello?"
"Hello. I am the one who called earlier. It was just an alarm."
"Pardon?"
"A normal alarm."
"You mean, a clock alarm?"
"Yes, yes... I mean a clock alarm. My roommate apparently bought a new alarm, and he is staying outside tonight"
"
"Yes. I am sorry."
"So everything alright?"
"(sigh... udah dibilang dari tadi) Yes. And don't send the technicians, please."
"Ok. good night"
Moral of the story:
- Jika ada bahaya, menelepon pihak keamanan adalah tindakan yang tepat. Tapi ingat, cek dulu kalau memang benar-benar keadaan bahaya.
- Berpikirlah dengan jernih.
- Kalau beli alarm baru yang bunyinya keras, dan malam itu ga nginap di kamar itu, jangan dihidupkan! setidaknya jangan disembunyikan!
Labels:
masa lalu
Thursday, 25 October 2007
Alarm dan diriku
Seminggu ini rasanya ga ada kejadian-kejadian menarik. Jadi aku mau bunuh diri saja aku ngepost tentang kejadian masa lampau saja. Mungkin udah ada yang tau atau ikut terlibat dalam ceritanya, I'm sorry for the repetition.
Cerita 1 - September 2005
karena sederet kebetulan, akhirnya aku bisa datang ke Jakarta untuk ikut OSN. Kebetulan lainnya (terutama urutan abjad nama provinsi) menyebabkan aku roommate-an sama dua orang dari Indonesia bagian Timur, saudara berinsial SU dari Waingapu, Nusa Tenggara Timur, dan RS dari Merauke, Papua. Mereka berbicara dengan logat timur yang belum pernah aku dengar sebelumnya, sampai-sampai aku ngira mereka sengaja ngomong dengan logat begitu. Ternyata enggak, memang begitulah cara mereka berbicara.
Nil! Cukup mengomentari logat orang,kaya' logat loe ga aneh aja. Langsung ke cerita utama.
Kami tinggal di hotel yang lumayan besar dan bagus. Suatu hari, SU ingin pergi ke kolam renang untukpertama kali dalam hidupnya berenang. RS ikut, sedangkan aku lumayan capek dan sebelumnya udah pernah liat kolam renang jadi aku tinggal di kamar saja. mereka pun pergi dan aku tidur-tiduran di kamar.
Beberapa jam kemudian, aku dikejutkan dengan bunyi alarm kebakaran yang amat nyaring. Aku terhenyak (sebenarnya aku ga tau apa arti terhenyak). aku hendak keluar, tapi SU dan RS lebih dulu membuka pintu dan masuk ke kamar.
sebenarnya percakapan dibawah ini terjadi dengan logat dan vocabulary masing-masing yang lebih kental, tapi aku dah lumayan lupa jadi sedikit kunetralkan
SU: "Hamdanil, gawat!"
Aku: "Ada kebakaran ya?"
RS: "Tidak ada. Si SU yang kasih hidup1 itu alarm."
SU: "Bukan, saya cuma tekan sedikit saja, eh langsung bunyi."
Aku: *ketawa*
RS: "Jadi bagaimana? kita lapor satpam?"
RS, SU, Aku: *sepakat, dan langsung keluar*
Begitu kami membuka pintu, terlihat di satu koridor para penghuni hotel berhamburan keluar kamar dan terlihat panik semua. Aku berpikir, waduh kalau begini, bisa dihajar massa kami kalau ngaku!
Aku: "Ga usah lapor deh, gimana kalau kita pura-pura ga tau aja, pura-pura takut gitu"
RS & SU: "Boleh juga."
Ya sudah, kami jalankan ide tersebut. Kami pura-pura takut dan nanya orang-orang apa yang terjadi. Tentu saja ga ada orang yang tau, orang si SU yang mencet. Setelah itu, kami kembali ke kamar dan tertawa terbahak-bahak. Setelah a
ku tanya mereka, ternyata yang terjadi sebelumnya kira-kira seperti ini.
Sepulangnya dari kolam renang...
RS: "SU, kalau di hotel besar itu ada ini (menunjuk ke alat seperti di gambar), jadi kalau ada kebakaran, tinggal tekan ini, nanti langsung ada alarm."
SU: "O.. begitu ya, hebat juga (sambil melihat-lihat)"
SU: *memegang kaca pada alat tersebut*
RS: "Oi jangan kau tekan sekarang!"
SU: "Kan katanya break glass, kalau saya tidak kasih pecah1, tidak apa-apa toh?"
SU: *memencet kaca dengan lembut; alarm langsung meraung-raung*
RS: "Apa saya bilang!"
RS, SU: *kabur*
(Nampaknya percakapan diatas sedikit menyimpang, lihat keterangan saksi mata untuk percakapan yang sebenarnya)
Setelah kami tanya peserta-peserta OSN yang lain, rupanya alarm hanya bunyi di koridor kami, bukan di seluruh hotel, jadi berkurang lah rasa bersalah SU yang telah membuat panik orang satu koridor. Tapi setidaknya ada peserta lain yang saking paniknya, langsung mengepak barang-barangnya dan membawa koper turun lewat tangga darurat. Malangnya, karena terlalu panik, terburu-buru dan bawaan lumayan berat, ia terjatuh di tangga darurat dan katanya lumayan sakit. Mungkin itulah satu-satunya korban dalam peristiwa ini.1 dalam logat timur seperti NTT dan Papua, verb phrase "kasih xxx" artinya xxxkan, misalnya kasih hidup=hidupkan, kasih pecah=pecahkan, dll.
Moral of the story
Yap, inilah hari-hari pertama aku masuk ke NTU. Dan juga hari-hari pertamaku di Singapura, salah satu kota terbesar di dunia. Suatu hari, then-roommate nginap di tempat abangnya (kalau ga salah) dan aku sendirian di kamar. Di malam harinya, aku pun tertidur dengan lelap.
Tiba-tiba, dalam hening tengah malam, suatu alarm meraung-raung dengan nyaringnya. Tentu saja, aku terbangun dan bertanya-tanya. Tak tau alarm apa yang berbunyi, aku mulai panik. Apalagi ini negeri antah-berantah yang aku baru tinggal disini kurang dari seminggu.Apakah yang terjadi? alarm kebakaran kah? kok aku enggak kebakar? tunggu saja postingan selanjutnya!
*bersambung*
Cerita 1 - September 2005
karena sederet kebetulan, akhirnya aku bisa datang ke Jakarta untuk ikut OSN. Kebetulan lainnya (terutama urutan abjad nama provinsi) menyebabkan aku roommate-an sama dua orang dari Indonesia bagian Timur, saudara berinsial SU dari Waingapu, Nusa Tenggara Timur, dan RS dari Merauke, Papua. Mereka berbicara dengan logat timur yang belum pernah aku dengar sebelumnya, sampai-sampai aku ngira mereka sengaja ngomong dengan logat begitu. Ternyata enggak, memang begitulah cara mereka berbicara.
Nil! Cukup mengomentari logat orang,
Kami tinggal di hotel yang lumayan besar dan bagus. Suatu hari, SU ingin pergi ke kolam renang untuk
Beberapa jam kemudian, aku dikejutkan dengan bunyi alarm kebakaran yang amat nyaring. Aku terhenyak (sebenarnya aku ga tau apa arti terhenyak). aku hendak keluar, tapi SU dan RS lebih dulu membuka pintu dan masuk ke kamar.
sebenarnya percakapan dibawah ini terjadi dengan logat dan vocabulary masing-masing yang lebih kental, tapi aku dah lumayan lupa jadi sedikit kunetralkan
SU: "Hamdanil, gawat!"
Aku: "Ada kebakaran ya?"
RS: "Tidak ada. Si SU yang kasih hidup1 itu alarm."
SU: "Bukan, saya cuma tekan sedikit saja, eh langsung bunyi."
Aku: *ketawa*
RS: "Jadi bagaimana? kita lapor satpam?"
RS, SU, Aku: *sepakat, dan langsung keluar*
Begitu kami membuka pintu, terlihat di satu koridor para penghuni hotel berhamburan keluar kamar dan terlihat panik semua. Aku berpikir, waduh kalau begini, bisa dihajar massa kami kalau ngaku!
Aku: "Ga usah lapor deh, gimana kalau kita pura-pura ga tau aja, pura-pura takut gitu"
RS & SU: "Boleh juga."
Ya sudah, kami jalankan ide tersebut. Kami pura-pura takut dan nanya orang-orang apa yang terjadi. Tentu saja ga ada orang yang tau, orang si SU yang mencet. Setelah itu, kami kembali ke kamar dan tertawa terbahak-bahak. Setelah a
ku tanya mereka, ternyata yang terjadi sebelumnya kira-kira seperti ini.Sepulangnya dari kolam renang...
RS: "SU, kalau di hotel besar itu ada ini (menunjuk ke alat seperti di gambar), jadi kalau ada kebakaran, tinggal tekan ini, nanti langsung ada alarm."
SU: "O.. begitu ya, hebat juga (sambil melihat-lihat)"
SU: *memegang kaca pada alat tersebut*
RS: "Oi jangan kau tekan sekarang!"
SU: "Kan katanya break glass, kalau saya tidak kasih pecah1, tidak apa-apa toh?"
SU: *memencet kaca dengan lembut; alarm langsung meraung-raung*
RS: "Apa saya bilang!"
RS, SU: *kabur*
(Nampaknya percakapan diatas sedikit menyimpang, lihat keterangan saksi mata untuk percakapan yang sebenarnya)
Setelah kami tanya peserta-peserta OSN yang lain, rupanya alarm hanya bunyi di koridor kami, bukan di seluruh hotel, jadi berkurang lah rasa bersalah SU yang telah membuat panik orang satu koridor. Tapi setidaknya ada peserta lain yang saking paniknya, langsung mengepak barang-barangnya dan membawa koper turun lewat tangga darurat. Malangnya, karena terlalu panik, terburu-buru dan bawaan lumayan berat, ia terjatuh di tangga darurat dan katanya lumayan sakit. Mungkin itulah satu-satunya korban dalam peristiwa ini.1 dalam logat timur seperti NTT dan Papua, verb phrase "kasih xxx" artinya xxxkan, misalnya kasih hidup=hidupkan, kasih pecah=pecahkan, dll.
Moral of the story
jangan biarkan orang NTT masuk ke dalam hotel, apalagi ditemani orang Papua- kalau baru tahu soal suatu alat, jangan langsung dimainkan.
- jika terjadi kebakaran, selamatkan diri anda lebih dahulu dan jangan pikirkan barang-barang anda.
Yap, inilah hari-hari pertama aku masuk ke NTU. Dan juga hari-hari pertamaku di Singapura, salah satu kota terbesar di dunia. Suatu hari, then-roommate nginap di tempat abangnya (kalau ga salah) dan aku sendirian di kamar. Di malam harinya, aku pun tertidur dengan lelap.
Tiba-tiba, dalam hening tengah malam, suatu alarm meraung-raung dengan nyaringnya. Tentu saja, aku terbangun dan bertanya-tanya. Tak tau alarm apa yang berbunyi, aku mulai panik. Apalagi ini negeri antah-berantah yang aku baru tinggal disini kurang dari seminggu.Apakah yang terjadi? alarm kebakaran kah? kok aku enggak kebakar? tunggu saja postingan selanjutnya!
*bersambung*
Labels:
masa lalu
Saturday, 20 October 2007
Dimana Rasa Sayange?
Jutaan warga Indonesia bak tersambar petir ketika mendengar Malaysia menggunakan lagu "Rasa Sayange" dalam kampanye turismenya. Bagaimana tidak, lagu ini kan selama ini kita tau sebagai lagu rakyat dari Indonesia, kok bisa-bisanya Malaysia make' untuk promosikan negaranya. Satu negara gempar. Tak tanggung-tanggung, para anggota DPR di Jakarta ikut geram, dan mengusulkan pemerintah menuntut Malaysia atas "pencurian budaya". Forum-forum Indonesia rusuh, nama Malaysia pun sekarang sudah umum dipelesetkan jadi "Malingsia".
Saya bukannya tidak nasionalis, tapi sebenarnya saya heran kenapa kita begitu marah? Seolah olah ini mengancam kedaulatan negara. Lagipula, kata siapa Rasa Sayange itu lagu dari Indonesia? Lho, aku ingat pelajaran SD kan, katanya lagu rakyat dari Maluku? So you are told. Yang ngajar dan bikin kurikulumnya kan orang Indonesia, wajar aja dong kalau bilang ini lagu Indonesia. Mungkin orang Malaysia juga diajari di sekolahnya, bahwa rasa sayange berasal dari malaysia, mirip seperti kita diajari bahwa lagu ini berasal dari Indonesia.
Sebenarnya, untuk budaya rakyat seperti ini, susah ditemukan bukti conclusive mengenai siapa penulis yang sebenarnya. Para ahli yang netral (bukan dari Indo maupun Malaysia) sekalipun angkat tangan, tidak ada yang tau kapan, dimana, atau oleh siapa lagu ini pertama kali ditulis. Atas dasar apa kita yang pengetahuannya mengenai lagu ini hanya terbatas dari pelajaran TK dan SD, mengkaim lagu ini milik Indonesia?
Memang kedua pihak mengajukan bukti-bukti kepemilikan lagu ini, tapi tidak ada yang conclusive. Misalnya, bukti pada Asian Games 1962 di Jakarta, piringan hitam yang berisi lagu ini dijadikan cinderamata bagi para peserta (Lagu "Rasa Sayange" Terbukti Milik Indonesia, Antara, 3 Okt 2007). Malaysia juga tak kalah, mengajukan saksi hidup berumur 66 tahun dari komunitas Portugis di Malaysia, yang di ajari lagu tsb secara turun-temurun ("Rasa Sayange" A Popular Song Among Melaka Portuguese Community, Bernama, 10 Okt 2007), dan seorang diplomat Barat yang dulu pernah diajari lagu ini dalam kunjungannya ke Malaysia sebagai seorang sukarelawan tahun 1971 (No Brotherly Love, The Economist, 11 Okt 2007). Kesemuanya cuma bukti bahwa lagu tersebut sejak dulu pernah digunakan di kedua negara, bukan merupakan bukti bahwa Rasa Sayange pertama kali diciptakan oleh negara manapun.
Lagi pula, apa sih ruginya kalau Malaysia memakai lagu ini? lagu rakyat kan enggak di-copyright atau dipatenkan. Apa salahnya Indonesia dan Malaysia menunjukkan "Rasa Sayang" secara harfiah, misalnya dengan cara menerima lagu ini milik bersama Negeri Nusantara (Malay world). Kalau begitu kan kedua negara bisa mengambil manfaat dari lagu ini :), tidak ada yang dirugikan.
Selama ini, hubungan Indonesia dan Malaysia sungguh bertentangan dengan judul lagu yang mereka perebutkan. Masih belum hilang dari ingatan kita, saat kedua negara saling mengirimkan kapal perang untuk memperebutkan sebuah blok minyak di wilayah Ambalat. Persengketaan ini bahkan diramaikan oleh ribuan orang Indonesia yang mendaftarkan diri untuk dikirim ke ambalat bermodalkan ilmu bela diri. Atau kasus atlet karate Indonesia yang dihajar oleh wasit Malaysia. Atau TKI-TKI Indonesia yang disiksa majikannya di Malaysia.
Padahal kedua negara punya banyak alasan untuk saling menyayangi. Kesamaan bahasa, agama, dan rumpun mayoritas penduduknya harusnya jadi perekat kedua negara. Belum lagi status kedua negara sebagai "jiran" dan sesama anggota ASEAN. Selain itu juga ada kebutuhan ekonomi kedua negara, dimana Indonesia membutuhkan lapangan kerja dan Malaysia membutuhkan tenaga kerja, dan kesamaan bahasa yang memudahkan penempatanan tenaga kerja.
Selain itu, menurut saya rasa nasionalisme kita (orang-orang Indonesia) sering tidak konsisten. Kalau rakyat Indonesia begitu patriotik sampai-sampai nekat melawan kapal perang malaysia dengan jurus-jurus silat, alangkah baiknya kalau rasa patriotisme yang sama juga kita tunjukkan dalam membangun negara ini, misalnya dengan taat peraturan, belajar dengan tekun atau bekerja dengan sungguh-sungguh, supaya kualitas hidup di Indonesia bisa lebih baik. Kalau para politisi itu memang segitu "cinta" nya kepada Indonesia, harusnya mereka giat memerangi korupsi sebagaimana "giat"nya mereka mengecam Malaysia, dan indeks korupsi Indonesia tentu tak akan seterpuruk sekarang. Kualitas hidup yang lebih baik, atau diberantasnya korupsi tentu saja jauh lebih dibutuhkan oleh bangsa ini, daripada sekedar melarang Malaysia menyanyikan rasa sayange. Wallahu a'lam.
Terinspirasi dari artikel No Brotherly Love, di The Economist. Tulisan diatas hanya opini saya, dan mohon maaf karena disebabkan keterbatasan penulis, mungkin ada data yang kurang lengkap atau kurang akurat.
Saya bukannya tidak nasionalis, tapi sebenarnya saya heran kenapa kita begitu marah? Seolah olah ini mengancam kedaulatan negara. Lagipula, kata siapa Rasa Sayange itu lagu dari Indonesia? Lho, aku ingat pelajaran SD kan, katanya lagu rakyat dari Maluku? So you are told. Yang ngajar dan bikin kurikulumnya kan orang Indonesia, wajar aja dong kalau bilang ini lagu Indonesia. Mungkin orang Malaysia juga diajari di sekolahnya, bahwa rasa sayange berasal dari malaysia, mirip seperti kita diajari bahwa lagu ini berasal dari Indonesia.
Sebenarnya, untuk budaya rakyat seperti ini, susah ditemukan bukti conclusive mengenai siapa penulis yang sebenarnya. Para ahli yang netral (bukan dari Indo maupun Malaysia) sekalipun angkat tangan, tidak ada yang tau kapan, dimana, atau oleh siapa lagu ini pertama kali ditulis. Atas dasar apa kita yang pengetahuannya mengenai lagu ini hanya terbatas dari pelajaran TK dan SD, mengkaim lagu ini milik Indonesia?
Memang kedua pihak mengajukan bukti-bukti kepemilikan lagu ini, tapi tidak ada yang conclusive. Misalnya, bukti pada Asian Games 1962 di Jakarta, piringan hitam yang berisi lagu ini dijadikan cinderamata bagi para peserta (Lagu "Rasa Sayange" Terbukti Milik Indonesia, Antara, 3 Okt 2007). Malaysia juga tak kalah, mengajukan saksi hidup berumur 66 tahun dari komunitas Portugis di Malaysia, yang di ajari lagu tsb secara turun-temurun ("Rasa Sayange" A Popular Song Among Melaka Portuguese Community, Bernama, 10 Okt 2007), dan seorang diplomat Barat yang dulu pernah diajari lagu ini dalam kunjungannya ke Malaysia sebagai seorang sukarelawan tahun 1971 (No Brotherly Love, The Economist, 11 Okt 2007). Kesemuanya cuma bukti bahwa lagu tersebut sejak dulu pernah digunakan di kedua negara, bukan merupakan bukti bahwa Rasa Sayange pertama kali diciptakan oleh negara manapun.
Lagi pula, apa sih ruginya kalau Malaysia memakai lagu ini? lagu rakyat kan enggak di-copyright atau dipatenkan. Apa salahnya Indonesia dan Malaysia menunjukkan "Rasa Sayang" secara harfiah, misalnya dengan cara menerima lagu ini milik bersama Negeri Nusantara (Malay world). Kalau begitu kan kedua negara bisa mengambil manfaat dari lagu ini :), tidak ada yang dirugikan.
Selama ini, hubungan Indonesia dan Malaysia sungguh bertentangan dengan judul lagu yang mereka perebutkan. Masih belum hilang dari ingatan kita, saat kedua negara saling mengirimkan kapal perang untuk memperebutkan sebuah blok minyak di wilayah Ambalat. Persengketaan ini bahkan diramaikan oleh ribuan orang Indonesia yang mendaftarkan diri untuk dikirim ke ambalat bermodalkan ilmu bela diri. Atau kasus atlet karate Indonesia yang dihajar oleh wasit Malaysia. Atau TKI-TKI Indonesia yang disiksa majikannya di Malaysia.
Padahal kedua negara punya banyak alasan untuk saling menyayangi. Kesamaan bahasa, agama, dan rumpun mayoritas penduduknya harusnya jadi perekat kedua negara. Belum lagi status kedua negara sebagai "jiran" dan sesama anggota ASEAN. Selain itu juga ada kebutuhan ekonomi kedua negara, dimana Indonesia membutuhkan lapangan kerja dan Malaysia membutuhkan tenaga kerja, dan kesamaan bahasa yang memudahkan penempatanan tenaga kerja.
Selain itu, menurut saya rasa nasionalisme kita (orang-orang Indonesia) sering tidak konsisten. Kalau rakyat Indonesia begitu patriotik sampai-sampai nekat melawan kapal perang malaysia dengan jurus-jurus silat, alangkah baiknya kalau rasa patriotisme yang sama juga kita tunjukkan dalam membangun negara ini, misalnya dengan taat peraturan, belajar dengan tekun atau bekerja dengan sungguh-sungguh, supaya kualitas hidup di Indonesia bisa lebih baik. Kalau para politisi itu memang segitu "cinta" nya kepada Indonesia, harusnya mereka giat memerangi korupsi sebagaimana "giat"nya mereka mengecam Malaysia, dan indeks korupsi Indonesia tentu tak akan seterpuruk sekarang. Kualitas hidup yang lebih baik, atau diberantasnya korupsi tentu saja jauh lebih dibutuhkan oleh bangsa ini, daripada sekedar melarang Malaysia menyanyikan rasa sayange. Wallahu a'lam.
Terinspirasi dari artikel No Brotherly Love, di The Economist. Tulisan diatas hanya opini saya, dan mohon maaf karena disebabkan keterbatasan penulis, mungkin ada data yang kurang lengkap atau kurang akurat.
Labels:
opini
Subscribe to:
Posts (Atom)
